Senin, 03 April 2023

INTERNAL AUDIT, RESUME PERTEMUAN 7

PROSES BISNIS

Apa itu Proses Bisnis?

    Secara singkat proses bisnis atau business process adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mencapai suatu tujuan bisnis. Ketika akan mengembangkan bisnis, maka perlu menentukan konsep, tujuan, serta strategi promosi untuk mengenalkan produk bisnis tersebut. Semua itulah yang disebut dengan proses bisnis. Setiap proses yang terjadi memiliki tugas dan perannya masing-masing, namun semuanya tetap bermuara dalam satu tujuan yaitu untuk mengembangkan visi dan misi perusahaan ke arah yang lebih baik.

Pengertian Proses Bisnis Menurut Para Ahli

  • Menurut Pall (1987), proses bisnis adalah organisasi logis yang mengumpulkan manusia, material, energi, peralatan, dan prosedur untuk mencapai hasil akhir.
  • Menurut Davenport (1993) menggambarkan proses bisnis sebagai serangkaian kegiatan bisnis dengan input, output, awal dan akhir yang berbeda.
  • Menurut Rainer, proses bisnis adalah aktivitas bisnis yang saling berhubungan sehingga menghasilkan produk atau jasa yang dapat diperjualbelikan.
  • Menurut Weske, proses bisnis adalah aktivitas bisnis yang dapat dijalankan secara manual atau bantuan sistem informasi.
  • Menurut Hammer dan Champy, proses bisnis adalah aktivitas bisnis yang memerlukan satu atau lebih mengenai saran agar bisa menghasilkan output kepada konsumen.

Jenis-Jenis Proses Bisnis

    Menurut Solvexia, Biasanya proses bisnis dibagi ke dalam tiga jenis berikut ini:

1. Proses Primer

    Proses ini menjadi inti operasi dari suatu bisnis, bisa dibilang proses primer adalah bagian paling penting dalam sebuah bisnis. Proses primer sendiri meliputi:
  • Produksi
  • Marketing
  • Pelayanan
Jika bisnis telah mengikuti ketiga tahap tersebut, mudah bagi pebisnis untuk menawarkan produk kepada pelanggan. 

2. Proses Sekunder

    Proses sekunder merupakan proses yang mendukung berjalannya proses primer di suatu perusahaan. Proses dukungan harus berjalan selaras dengan operasional perusahaanContoh dari proses sekunder adalah departemen finansial yang mengurus keuangan perusahaan, dan lain sebagainya.

3. Proses Manajemen

    Ketika memasuki proses ini adanya keterlibatan pengawasan hingga pemantauan dari segi manajemen. Kemudian, pengelolaan hingga manajemen strategi perusahaan harus tepat agar sesuai dengan tujuan perusahaan. Proses ini juga melibatkan rencana strategis hingga pengelolaan operasional perusahaan. 

Tahap-Tahap Dalam Proses Bisnis

    Ada beberapa tahap yang termasuk dalam bagian proses bisnis yaitu:

1. Analisis Aktivitas

    Dalam tahap ini baik pemimpin maupun karyawan sama-sama berusaha merancang dan menganalisis apa yang sebaiknya dikerjakan perusahaan dalam satu periode tertentu. Pembahasan ini menjadi penting agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan. 

2. Membuat Keputusan

    Setelah sama-sama berusaha menganalisis apa yang akan dikerjakan dalam satu periode tertentu maka selanjutnya adalah membuat dan mengambil keputusan. Pengambilan keputusan berkaitan dengan biaya operasional perusahaan yang kemudian berdampak pada aktivitas perusahaan. 

3. Pelaksanaan

    Pengambilan keputusan telah disepakati maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan. Jika tanpa pelaksanaan, akan menjadi sesuatu yang sia-sia dan sekadar berakhir wacana. Agar pelaksanaan dapat sesuai harapan, pemanfaatan ERP software bisa digunakan untuk membantu aktivitas bisnis. 

4. Evaluasi

    Tiada aktivitas bisnis yang berjalan dengan sempurna, dan karena itu dibutuhkan evaluasi tidak hanya secara parsial melainkan holistik. Indikator dalam penilaian evaluasi dapat terdiri dari berbagai cara. Pebisnis dapat menilai kinerja karyawan dengan tugasnya masing-masing. Kemudian, target yang dibebankan setiap divisi apakah dapat tercapai. Dengan evaluasi, bisnis akan terlihat mana kekurangan yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. 

Fungsi Proses Bisnis

    Ada tiga fungsi bisnis yang termasuk dalam bagian proses ini yaitu:
  • Membantu divisi SDM untuk memecahkan permasalahan ketika aktivitas bisnis sedang berlangsung.
  • Piranti bagi konsumen untuk melihat kapan proses produksi berlangsung, distribusi mulai dilakukan, dan peluncuran produk akan dilaksanakan.
  • Memberikan informasi kepada karyawan agar paham akan tugas yang telah diberikan sehingga tercapai tujuan perusahaan. 

Manfaat Proses Bisnis Bagi Perusahaan

    Proses bisnis sangat dibutuhkan dalam organisasi besar. Sebuah proses membentuk garis hidup untuk bisnis apa pun dan membantunya merampingkan aktivitas individu, memastikan bahwa sumber daya digunakan secara optimal. Selain itu proses bisnis juga bermanfaat untuk:
  • Mengidentifikasi tugas kunci untuk mengembangkan bisnis
  • Menambah Efisiensi
  • Merampingkan komunikasi antara orang, fungsi, dan departemen
  • Memastikan akuntabilitas dan penggunaan sumber daya secara optimal
  • Mencegah kekacauan agar tidak terjadi di dalam operasi harian bisnis perusahaan
  • Menstandarisasi serangkaian prosedur untuk menjalankan tugas yang penting bagi bisnis perusahaan.

Karakter Proses Bisnis

    Ada beberapa karakter dari proses bisnis, yaitu:

1. Definitif

    Proses bisnis memiliki karakter definitif, yaitu memiliki batasan, input, output yang jelas.

2. Urutan

    Suatu proses bisnis harus memiliki aktivitas yang di dalamnya terdapat tahapan atau siklus yang terikat dengan ruang dan waktu.

3. Pelanggan

    Pelanggan merupakan penerima hasil dari proses bisnis, karena pada dasarnya suatu bisnis didirikan berdasarkan kebutuhan dan permintaan dari pelanggan.

4. Nilai Tambah

    Nilai merupakan nilai-nilai yang menjadi kelebihan bisnis kamu dibanding yang lainnya. Tanpa adanya nilai tambah suatu bisnis akan kesulitan untuk bersaing, atau bahkan menemukan pelanggan yang tertarik dengan produk-produk mereka.

5. Keterkaitan

    Proses bisnis tidak dapat dijalankan oleh seorang individual saja, dibutuhkan suatu struktur organisasi untuk menaungi proses bisnis tersebut.

6. Fungsi Silang

    Meski tidak harus, namun biasanya suatu proses dalam proses bisnis mencakup beberapa fungsi sekaligus.

Contoh Proses Bisnis

    Contoh menjadi cara termudah untuk memahami sesuatu, karena itu di bawah ini terdapat tiga contoh dari proses bisnis, yaitu logistik ekspedisi, retail, dan proses rekrutmen karyawan.

  1. Proses Bisnis di Bidang Logistik Ekspedisi
      • Perusahaan ekspedisi menerima permintaan pengiriman
      • Paket akan dikelompokkan sesuai dengan tujuan pengiriman
      • Paket dikirim ke kantor ekspedisi terdekat dengan alamat tujuan
      • Paket diterima oleh kantor ekspedisi tujuan
      • Kurir mengirimkan paket ke alamat tujuan
      • Penerima paket akan menerima paket dan mengkonfirmasi penerimaan
    1. Proses Bisnis di Bidang Retail
      • Pemilik warung membeli supply barang dagang ke supplier
      • Pemilik warung menjual kembali barang tersebut di warungnya
      • Pemilik warung mengontrol persediaan barang untuk memastikan stok barang tetap tersedia
      • Warung akan merekapitulasi transaksi yang terjadi secara berkala
    2. Proses Bisnis di Bidang Rekrutmen Karyawan
      • Headhunter akan membuat flyer beserta spesifikasi kandidat yang dibutuhkan, dan mempostingnya ke berbagai situs pencari kerja, dan sosial media. Melalui program layanan Job Posting, MyRobin dapat mempercepat proses ini, simak selengkapnya di sini.
      • Pencari kerja akan melamar untuk posisi tersebut dengan mengirimkan CV, portofolio, dan dokumen pendukung lainnya.
      • Headhunter akan menscreening dan menyeleksi CV yang masuk
      • Headhunter akan menghubungi dan melakukan interview terhadap kandidat yang memenuhi kualifikasi
      • Tergantung situasi dan kondisi, kandidat akan diserahkan kepada user untuk di interview
      • Negosiasi gaji akan terjadi, dan setelah tercapai kesepakatan Headhunter akan menyerahkan dokumen kontrak kerja untuk ditandatangani kandidat
      • kandidat akan mulai onboarding setelah mempelajari tools, dan tugas dan tanggung jawab yang akan ia lakukan.

















     



















    REFERENSI

    https://runsystem.id/id/blog/proses-bisnis/#:~:text=Secara%20garis%20besar%2C%20proses%20bisnis,sehingga%20mampu%20memenuhi%20tujuan%20bisnis.
    https://myrobin.id/untuk-bisnis/mengenal-apa-itu-proses-bisnis/

    Minggu, 02 April 2023

    ASSURANCE DAN AUDIT 1, RESUME PERTEMUAN 7

     BUKTI AUDIT DAN TES TRANSAKSI

    SIFAT BUKTI AUDIT

        Bukti audit didefinisikan sebagai setiap informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah informasi yang diaudit telah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Bukti audit mencakup informasi yang sangat persuasif, seperti perhitungan auditor atas surat berharga yang dapat diperjual belikan, dan informasi yang kurang persuasif, seperti berbagai tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan dari para karyawan klien. 

        Auditor harus merancang dan melaksanakan prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisi untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat. Bukti audit diperlukan untuk mendukung opini dari laporan auditor. Bukti audit ini bersifat komulatif dan diperoleh dari prosedur audit. Prosedur audit mencakup inspeksi, observasi, konfirmasi, perhitungan kembali, pelaksanaan ulang dan prosedur analitis, dan sering kali memadukan beberapa prosedur permintaan keterangan dari manajemen.

        Prosedur untuk memperoleh bukti audit:

    • Prosedur penilaian risiko 
    • Prosedur audit lanjutan yang terdiri atas :
      • Pengujian pengendalian, ketika disyaratkan oleh SA atau ketika auditor telah memilih untuk melakukan hal tersebut
      • Prosedur substantif, termasuk pengujian rinci dan prosedur analitis substantif

        Bukti audit yang mendukung laporan keuangan terdiri atas data akuntansi dan semua informasi penguat yang tersedia bagi auditor. Jurnal, buku besar ,buku pembantu, buku pedoman akuntansi yang berkaitan, serta catatan lembaran kerja (worksheet) dan spread sheet yang mendukung alokasi biaya, perhitungan, dan rekonsiliasi keseluruhannya merupakan bukti yang mendukung laporan keuangan. Data akuntansi saja tidak dapat sebagai pendukung yang cukup bagi suatu laporan keuangan.

        Bukti audit penguat meliputi cek, catatan electronic fund system, faktur, surat kontrak, notulen rapat, konfirmasi dan representasi tertulis dari pihak yang mengetahui, informasi yang diperoleh auditor melalui permintaan keterangan, pengamatan, inspeksi, dan pemeriksaan fisik, serta informasi lain yang dikembangkan oleh atau tersedia bagi auditor yang memungkinkannya menarik kesimpulan berdasarkan alasan yang kuat.

        Untuk dapat dikatakan kompeten, bukti audit harus sah dan relevan. Bukti ekstern yang didapat dari pihak independen diluar perusahaan dianggap lebih kuat atau dapat lebih dipercaya keabsahannya dari pada bukti yang didapat dari dalam perusahaan tersebut. 

        Menurut Konrath ada 6 tipe audit yaitu :

    1. Physical Evidence terdiri atas segala sesuatu yang bisa dihitung, dipeliahara,diobservasi dan terutama berguna untuk mendukung tujuan eksistensi atau keberadaan.Seperti bukti fisik dari stock opname, observasi dari perhitungan fisik persediaan, pemeriksaan fisik surat berharga, dan inventarisasi tetap.
    2. Confirmation Evidence, adalah bukti yang diperoleh mengenai eksistensi kepemilikan atau penilaian, langsung dari pihak ketiga di luar klien. Contoh jawaban konfirmasi piutang, barang konsinyasi, utang, surat berharga yang disimpan biro administrasi efek dan konfirmasi dari penasihat hukum klien.
    3. Documentary Evidence, terdiri atas catatan-catatan akuntansi dan dokumen pendukung transaksi. Contoh faktur pembelian, copy faktur penjualan, journal voucher, general ledger, dan sub ledger. 
    4. Mathematical Evidence, merupakan perhitungan, perhitungan kembali dan rekonsiliasi yang dilakukan auditor. Misalnya footing, cross footing, extension dan rincian persediaan, perhitungan dan alokasi beban penyusutan, perhitungan beban bunga, laba/rugi penarikan aset tetap, PPh dan accruals.
    5. Analytical Evidence, butki yang diperoleh dari penelaahan analitis terhadap informasi keuangan klien. Prosedur analitis bisa dilakukan dalam bentuk :
      • Trend yaitu membandingkan angka angka laporan keuangan tahun berjalan dengan tahun tahun sebelumnya.
      • Common size analysisc.
      • Ratio analysis misalnya menghitung rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio leverage, dan rasio manajemen aset
    6. Hearsay Evidence, merupakan bukti dalam bentuk jawaban lisan dari klien atas pertanyaan pertanyaan yang diajukan auditor misalnya pertanyaan mengenai  pengendalian intern, persediaan yang bergerak lambat atau rusak, kejadian penting setelah laporan posisi keuangan dan lain lain.

    COMPLIANCE TEST DAN SUBTANTIVE TEST


    Compliance Test

        Test ketaatan (Compliance Test) atau test recorded transactions adalah tes terhadap bukti-bukti pembukuan yang mendukung transaksi yang dicatat perusahaan untuk mengetahui apakah setiap transaksi yang terjadi sudah diproses dan dicatat sesuai dengan sistem dan prosedur yang ditetapkan manajemen. Jika terjadi penyimpangan dalam pemrosesan dan pencatatan transaksi, walaupun jumlah (rupiah)-nya tidak material, auditor harus memperhitungkan pengaruh dari penyimpangan tersebut terhadap efektivitas pengendalian intern.

        Misalnya:












        

        Compliance Test biasanya dilakukan untuk transaksi berikut ini:








        Dalam melaksanakan compliance test, auditor harus memerhatikan hal-hal berikut:

    • Kelengkapan bukti pendukung (supporting document
    • Kebenaran perhitungan matematis (footing,cross footing,extension)
    • Otoritasi dari pejabat perusahaan yang berwenang.
    • Kebenaran nomor perkiraan yang didebit/dikredit


    Substantive Test

        Substantive Test adalah test terhadap kewajaran saldo-saldo perkiraan Laporan Keuangan (Laporan Posisi Keuangan (Neraca) dan Laporan Laba Rugi). Prosedur pemeriksaan yang dilakukan dalam substantive test antara lain:

    1. Intventarisasi aset tetap
    2. Observasi atas stock opname
    3. Konfirmasi piutang, utang dan bank
    4. Subsequent collection dan subsequent payment 
    5. Kas opname
    6. Pemeriksaan rekonsiliasi bank dan lain-lain.

        Jika pada waktu melakukan substantive test, auditor menemukan kesalahan-kesalahan, harus dipertimbangkan apakah kesalahan tersebut jumlahnya material atau tidak. Untuk kesalahan yang jumlahnya tidak material (immaterial ), auditor tetap perlu mengajukan usulan adjustment, tetapi tidak perlu dipaksakan karena tidak akan memengaruhi opini akuntan public. Dalam melakukan substantive test, auditor perlu membuat kertas kerja dalam bentuk Working Balance Sheet, Working Profit and Loss, Top Schedule dan Supporting Schedule.


    CARA PEMILIHAN SAMPEL

        Akuntan Publik biasanya tidak memeriksa keseluruhan transaksi dan bukti-buktiyang terdapat dalam perusahaan. Transaksi dan bukti-bukti diperiksa secara test basis atau secara sampling . Dari keseluruhan universe diambil beberapa sampel untuk ditest dan dari hasil pemeriksaan sampel, auditor akan menarik kesimpulan mengenai “universe  secara keseluruhan. Cara pemilihan sampel tidak boleh seenaknya, karena jika sampel yang diplih tidak tepat akan sangat mempengaruhi kesimpulan yang ditarik. Sampel harus dipilih dengan cara tertentu yang bisa dipertanggung jawabkan, sehingga sampel tersebut betul-betul representative.

     1. Menurut SA 530.2

        Sampling audit (sampling) : Penerapan prosedur audit terhadap kurang dari 100% unsure dalam suatu populasi audit yang relevan sedemikian rupa sehingga semua unit sampling memiliki peluang yang sama untuk diplih untuk memberikan basis memadai bagi auditor untuk menarik kesimpulan tentang populasi secara keseluruhan.

        Resiko sampling : Resiko bahwa kesimpulan auditor yang didasarkan pada suatu sampel dapat berbeda dengan kesimpulan jika prosedur audit yang samaditerapkan pada keseluruhan populasi.

        Resiko Non Sampling : Resiko bahwa auditor mencapai suatu kesimpulan yang salah dengan alasan apa pun yang tidak terkait dengan resiko sampling. 

        “Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit : nonstatistik dan statistik. Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel, serta dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti audit lain dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun kelompok transaksi yang berkaitan”.

        “Kedua pendekatan sampling audit di atas, jika diterapkan dengan semestinya, dapat menghasilkan bukti audit yang cukup”.

    2. Menurut SA 530.3

        Sampling Statistik : Suatu pendekatan sampling yang memiliki kararkteristik sebagai berikut:

    1. Pemilihan unsur-unsur sampel dilaksanakan secara acak; dan
    2. Penggunaan teori probabilitas untuk menilai hasil sampel, termasuk untuk mengukur resiko sampling.

        Pendekatan sampling yang tidak memiliki karakteristik-karakteristik 1 dan 2 dianggap sebagai sampling nonstatistik.

    3. Menurut SA 530.7 dan 530.8

        Keputusan untuk menggunakan pendekatan statistik atau nonstatistik dalam sampling membutuhkan pertimbangan auditor. Namun, ukuran sampel bukan merupakan kriteria yang tepat untuk membedakan antara pendekatan statistik atau nonstatistik.

    4.  Menurut SA 530.10

        Pengevaluasian Hasil Sampling Audit
        Untuk pengujian pengendalian, suatu tingkat penyimpangan sampel yang tinggi yang tidak diharapkan dapat meningkatkan resiko kesalahan penyajian material yang telah ditentukan, kecuali jika diperoleh bukti audit tambahan yang memperkuat penilaian awal resiko tersebut. Untuk pengujian rinci, suatu jumlah kesalahan penyajian yang tinggi yang tidak diharapkan dalam suatu sampel dapa tmenyebabkan auditor meyakini bahwa terdapat kesalahan penyajian material dalam suatu golongan transaksi atau saldo akun, kecuali bukti audit tambahan membuktikan tidak ada kesalahan penyajian material.

    Beberapa cara pemilihan sampling yang sering digunakan adalah :

    • Random/Judgement Sampling. Pemilihan sampel dilakukan secara random dengan menggunakan judgementsi akuntan publik. Caranya auditor bisa menggunakan random sampling table dalam memilih sampel. Pemilihan sampel bisa juga dilakukan dengan menggunakan computer. 
    • Block Sampling. Dalam hal ini auditor memilih transaksi di bulan-bulan tertentu sebagai sampel, misalnya bulan Januari, Juni, dan Desember. Keberhasilan kedua cara diatas walaupun paling mudah, tetapi sangat tergantung pada judgement si auditor, semakin banyak pengalaman auditor, semakin baik hasilnya, dalam arti sampel yang dipilih betul-betul representative. Tetapi jika auditor kurang pengalaman, sampel yang dipilih akan kurang representative.
    • Statistical Sampling. Pemilihan sampel dilakukan secara ilmiah, sehingga walaupun lebih sulit namun sampel yang terpilih betul- betul. Karena memakan waktu yang lebih banyak statistical sampling lebih banyak digunakan dalam audit diperusahaan yang sangat besar dan mempunyai internal control yang cukup baik.






























    REFERENSI

    https://www.studocu.com/id/document/universitas-riau/akuntansi-manajemen/sifat-dan-jenis-bukti-audit-kelompok-6/8086724
    https://www.scribd.com/document/377269211/Bab-Vi-bukti-Audit-Dan-Tes-Transaksi#

    ASSURANCE DAN AUDIT 1, RESUME PERTEMUAN 15

    JASA-JASA SELAIN AUDIT YANG DIBERIKAN AKUNTAN PUBLIK Jasa Audit Laporan Keuangan.      Dalam kapasitasnya sebagai auditor independen KAP mel...