Minggu, 26 Maret 2023

INTERNAL AUDIT, RESUME PERTEMUAN 6

 MANAJEMEN RISIKO

Pengertian Manjamen Risiko

    Risiko berhubungan dengan ketidakpastian, hal ini terjadi karena kurangnya informasi mengenai yang akan terjadi. Sesuatu yang tidak pasti dapat berakibat menguntungkan atau merugikan. Seperti diartikan oleh (Regan:2003) bahwa risiko ialah suatu kemungkinan yang menimbulkan atau mengesankan kerugian atau bahaya.
    Didefinisikan oleh Wideman dan Mamduh (2009) bahwa risiko adalah ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan yang dikenal dengan istilah opportunity, sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan dikenal dengan istilah risiko (risk).
    Emmaett J Vaughan dan Curtis Elliot (1978) menyebutkan, risiko diartikan sebagai kans kerugian (the chance of loss), kemungkinan kerugian (the possibility of loss), ketidakpastian (uncertainty), penyimpangan kenyataan dari hasil yang diharapkan (the dispersion of actual from expected result), probabilitas bahwa suatu hasil berbeda dari yang diharapkan (the probability of any outcome different from the expected).
    Risiko diklasifikasikan menjadi dua oleh Mamduh Hanafi (2009), yaitu: risiko murni dan risiko spekulatif. Pure risks atau biasa disebut risiko murni merupakan risiko di mana kemungkinan kerugian ada tetapi kemungkinan keuntungan tidak ada. Contoh: kebakaran, kecelakaan, kebanjiran, dan lain-lain. Sedangkan risiko spekulatif merupakan risiko di mana kita mengharapkan terjadinya kerugian dan juga keuntungan. Contoh: membeli saham, usaha bisnis, dan lain lain.
    Herman Darmawi (2006) menyatakan, manajemen risiko adalah suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis, serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektivitas dan efisiensi yang lebih tinggi.
    Irham Fahmi (2010) mendefinisikan manajemen risiko sebagai suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi atau perusahaan menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis.
    Manajemen risiko ini juga merupakan suatu aplikasi dari manajemen umum yang mencoba untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menangani sebab akibat dari ketidakpastian pada sebuah organisasi atau perusahaan. Dengan demikian, manajemen risiko diperlukan guna menghindari dan meminimalisir risiko yang akan muncul atau dihadapi perusahaan.

Tujuan Manajemen Risiko

    Manajemen risiko adalah usaha untuk mengelola risiko dengan cara memonitor sumber risiko, melacak, dan melakukan serangkaian upaya agar dampak risiko bisa diminimalisasi. Adapun tujuan dari manajemen risiko diantaranya adalah: 

1. Melacak sumber-sumber risiko

    Poin pertama tujuan manajemen risiko adalah guna melakukan mitigasi atau pelacakan sumber-sumber yang berpotensi mengancam tercapainya tujuan organisasi. Proses pelacakan ini dapat dilakukan dengan riset dan analisa prosedural dari setiap aktivitas organisasi, mulai dari proses pelayanan hingga pengelolaan aset. 

2. Menyediakan informasi risiko bagi organisasi

    Tujuan manajemen risiko yang berikutnya adalah menyediakan informasi tentang sumber-sumber potensi risiko di perusahaan.

3. Meminimalisasi kerugian akibat terjadinya risiko

    Setelah risiko ditemukan dan dianalisa, maka pihak-pihak yang terkait dengan risiko perlu melakukan upaya agar risiko tidak sampai terjadi dan mengancam keberlangsungan bisnis. Dalam hal ini, manajer risiko bisa membantu para pihak terlibat menemukan solusi penanganan risiko, seperti melenyapkan potensi, meminimalisasi, atau mentransfer risiko ke pihak lain.

4. Memberikan rasa aman bagi stakeholder

    Tujuan manajemen risiko perusahaan adalah agar stakeholder merasa aman dan percaya dengan integritas bisnis. Stakeholder di sini bukan sebatas satuan kerja saja, tapi juga pegawai, rekanan, masyarakat, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan.

5. Menjaga stabilitas dan pertumbuhan organisasi

    Terakhir, tujuan manajemen risiko adalah agar organisasi bisa berkembang dengan stabil sesuai target kerjanya. Dengan adanya proses manajemen risiko, organisasi bisa melakukan penanganan lebih cepat terhadap sumber-sumber yang mengancam tujuan organisasi. 

Kategori Risiko

    Di dalam manajemen risiko di Kementerian Keuangan, kategori risiko dibagi menjadi tujuh kategori. Adapun kategori risiko dari yang paling tinggi ke yang paling rendah sesuai KMK 577/KMK.01/2019 tentang Manajemen Risiko di Lingkungan Kementerian Keuangan adalah sebagai berikut: 

1. Keuangan Negara dan Kekayaan Negara

    Berkaitan kondisi fiskal pemerintah pusat meliputi kerangka ekonomi makro, penganggaran,perpajakan, kepabeanan, perbendaharaan, dan pengawasan keuangan serta berkaitan dengan kekayaan negara yang meliputi Barang Milik Negara (BMN), kekayaan negara yang dipisahkan, investasi pemerintah, dan kekayaan negara lainnya. 

2. Kebijakan 

    Berkaitan dengan perumusan dan penetapan kebijakan internal maupun eksternal organisasi. 

3. Reputasi

    Berkaitan dengan persepsi negatif atau menurunnya tingkat kepercayaan pemangku kepentingan eksternal terhadap organisasi. 

4. Fraud

    Berkaitan dengan perbuatan yang mengandung unsur kesengajaan, niat, menguntungkan diri sendiri atau orang lain, penipuan, penyembunyian atau penggelapan, dan penyalahgunaan kepercayaan yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan secara tidak sah yang dapat berupa uang, barang/harta, jasa, dan tidak membayar jasa, yang dilakukan oleh satu individu atau lebih. 

5. Legal

    Berkaitan dengan tuntutan/gugatan hukum dan upaya hukum lain kepada organisasi/jabatan. 

6. Kepatuhan

    Berkaitan dengan ketidakpatuhan organisasi atau pihak eksternal terhadap peraturan perundang-undangan, kesepakatan internasional, atau ketentuan lain yang berlaku. 

7. Operasional

    Risiko yang berkaitan dengan tidak berfungsinya proses bisnis organisasi, sistem informasi, atau keselamatan kerja individu. 

    Kategori risiko ini juga mempengaruhi level dampak risiko. Kategori risiko juga menggambarkan tingkat kepentingan, semakin tinggi tingkatan kategori risiko semakin tinggi pula tingkat kepentingannya sehingga semakin tinggi tingkatan kategori risiko yang dimiliki oleh risiko tersebut semakin besar dampaknya terhadap organisasi. 

Mitigasi Risiko

    Salah satu tujuan dari manajemen risiko adalah menyediakan informasi risiko bagi organisasi sehingga organisasi dapat melakukan upaya agar risiko tersebut tidak terjadi atau mengurangi dampaknya. Upaya-upaya tersebut disebut dengan mitigasi risiko.
    Mitigasi risiko adalah tindakan yang bertujuan untuk menurunkan dan/atau menjaga besaran dan/atau level risiko utama hingga mencapai risiko residual harapan. Risiko residual harapan adalah besaran risiko paling kecil yang dapat dicapai dari menurunkan besaran risiko utama. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa untuk mencapai residual harapan diperlukan tindakan-tindakan mitigasi atau penanganan risiko. Penanganan atau mitigasi risiko tersebut dibagi menjadi 5 jenis yaitu: 

1. Mengurangi kemungkinan terjadinya risiko

    Mitigasi terhadap penyebab risiko agar kemungkinan terjadinya risiko semakin kecil. 

2. Mengurangi dampak risiko

    Mengambil tindakan untuk mengurangi kemungkinan dampak dengan mengendalikan bagian internal perusahaan. 

3. Membagi (sharing) risiko

    Mengambil tindakan mentransfer seluruh atau sebagain risiko kepada instansi/entitas lain misalnya melalui asuransi, outsourcing atau hedging. 

4. Menghindari risiko

    Mengambil kebijakan untuk menghentikan kegiatan yang berpotensi menyebabkan risiko. 

5. Menerima risiko 

    Tidak mengambil tindakan apapun untuk mengatasi risiko, atau dengan kata lain menerima risiko tersebut terjadi. Tindakan ini dilakukan terhadap risiko yang dapat diterima atau dampaknya kecil. 

Manfaat Manajemen Risiko Perusahaan

    Meski mempunyai tahapan panjang dan berkelanjutan, faktanya proses manajemen risiko adalah salah satu komponen pengelolaan bisnis terpenting yang bisa melindungi perusahaan. Manfaat yang akan didapatkan oleh suatu perusahaan apabila melaksanakan risk management dengan baik antara lain:

  • Menjamin pencapaian tujuan

    Manajemen dalam sebuah perusahaan menggunakan segala cara yang baik untuk mencapai tujuan perusahaannya. Dalam usaha untuk mencapai tujuan tersebut, banyak hal bisa terjadi. Ada hal-hal yang bisa diantisipasi sebelumnya, dan ada kemungkinan masa depan yang penuh ketidakpastian. Ketidakpastian itulah yang menimbulkan risiko. Tujuan akan lebih mudah jika rintangan yang mungkin terjadi itu telah diketahui sebelumnya. Ronny Kountur (2004) mengatakan, keberhasilan suatu perusahaan ditentukan oleh kemampuan manajemen menggunakan berbagai sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan perusahaan. Perusahaan bisa berhasil jika memiliki tujuan yang baik untuk dicapai. Perusahaan yang memiliki manajemen risiko yang baik akan lebih mudah jalannya untuk mencapai tujuan dibandingkan dengan perusahaan yang tidak memiliki manajemen risiko yang baik.

  • Meminimalkan kemungkinan bangkrut

    Semua perusahaan memiliki kemungkinan bangkrut atau gulung tikar. Risiko bangkrut bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa sebuah perusahaan tidak akan bangkrut. Perusahaan yang menerapkan manajemen risiko (risk management) dengan baik akan sanggup menangani berbagai kemungkinan yang merugikan yang akan terjadi pada perusahaannya. Hal ini bisa meminimalkan kemungkinan kerugian dan eksistensi perusahaan bisa dipertahankan.

  • Meningkatkan keuntungan perusahaan

    Manajemen risiko (risk management) yang baik dan teratur tentu dapat meningkatkan keuntungan perusahaan. Salah satu manfaat dari manajemen risiko adalah dapat memperkecil kerugian sehingga keuntungan yang akan diperoleh semakin besar. Dengan penanganan risk management yang baik, segala kemungkinan kerugian yang bisa menimpa perusahaan bisa dibuat seminimal mungkin sehingga biaya menjadi lebih kecil dan keuntungan yang masuk ke perusahaan bisa lebih bertambah. Hal ini harus menjadi salah satu indikator suksesnya pelaksanaan manajemen risiko dalam suatu perusahaan.

  • Memberikan keamanan pekerjaan

    Manajer harus memiliki kemampuan memahami, menganalisa, dan menangani risiko. Manajer yang dapat menangani risiko dengan baik dapat membantu menyelamatkan perusahaan. Apabila perusahaan yang manajer tangani tersebut dapat terhindar dari kerugian, maka sudah pasti perusahaan akan mengalami kemajuan dan karir manajer pun akan ikut maju.

Komponen Manajemen Risiko

    Proses manajemen risiko perusahaan memiliki beberapa komponen atau tahapan, di antaranya:

1. Sasaran Analisa Risiko

    Komponen pertama proses manajemen risiko adalah sasaran atau tujuan risk assessment dilakukan. Sebelum sumber risiko diriset, maka perlu menentukan sasaran obyektif kenapa risk assessment dilakukan. Beberapa contoh sasarannya misalnya mencegah fraud, melindungi perusahaan dari piutang tak tertagih, dan sebagainya.

2. Lingkungan yang Berpotensi Memunculkan Risiko

    Komponen berikutnya dari proses manajemen risiko adalah lingkungan berpotensi memunculkan risiko. Setiap divisi dalam bisnis memiliki jenis risiko berbeda-beda, sehingga perlu menyiapkan strategi manajemen risiko perusahaan yang beragam pula.

3. Identifikasi Peristiwa Penyebab Risiko

Setelah menentukan lingkungan sumber risiko, komponen manajemen risiko perusahaan berikutnya adalah mengidentifikasi peristiwa penyebab risiko tersebut terjadi. Contoh manajemen risiko dalam tahap ini misalnya risk assessment di area produksi. Kemungkinan peristiwa penyebab risiko di area produksi misalnya kecelakaan kerja, kesalahan pengolahan bahan baku, dan sebagainya.

4. Valuasi Jenis Risiko

    Tahapan keempat manajemen risiko adalah menentukan valuasi atau leveling dari tiap jenis risiko yang ada. Valuasi ini dapat Anda putuskan berdasarkan dua hal, yaitu frekuensi terjadinya dan tingkat kerugian. Berdasarkan frequency, jenis jenis risiko adalah sebagai berikut:
  • Kemungkinan sering terjadi (most probable)
  • Kemungkinan terjadi (probable)
  • Kemungkinan kadang terjadi (fair)
  • Kemungkinan kecil terjadi (slight)
  • Kemungkinan tidak terjadi (improbable)
    Sementara itu, berdasarkan tingkat kerugian atau severity-nya, jenis risiko yaitu:
  • Bencana (catastrophic)
  • Kerugian tinggi (high loss)
  • Kerugian sedang (medium loss)
  • Kerugian rendah (low loss)
  • Dapat diabaikan (negligible)

5. Pengambilan Keputusan Atas Risiko

    Komponen kelima manajemen risiko adalah proses pengambilan keputusan. Setelah jenis risiko dan valuasinya ditemukan, perusahaan bisa membuat kebijakan atau mengambil tindakan sesuai jenis risiko tersebut. Beberapa keputusan yang bisa diambil dari proses manajemen risiko perusahaan misalnya mengawasi, memindahkan, atau langsung melenyapkan sumber risiko.

6. Dokumentasi Proses Manajemen Risiko

    Meski saat ini sudah ditangani, ada kemungkinan risiko mengalami relapse atau terjadi lagi di masa depan. Oleh karena itu, perusahaan perlu membuat dokumentasi untuk tiap penanganan risiko yang dilakukan.

7. Menginformasikan Risiko Pada Stakeholder

    Proses manajemen risiko perusahaan idealnya perlu diketahui setiap stakeholder bisnis, minimal stakeholder yang berkaitan langsung dengan risiko. Penginformasian risiko ini bisa dilakukan melalui rapat koordinasi atau penyerahan dokumentasi penanganan risiko pada stakeholder terkait.

Jenis Risiko dalam Manajemen Risiko

1. Risiko Bisnis

    Jenis risiko yang pertama dan paling umum adalah risiko bisnis, yaitu risiko berkaitan dengan aktivitas operasional perusahaan. Contoh manajemen risiko bisnis misalnya dengan menerapkan K3, pengawasan proses capital budgeting, pelatihan SDM, dan sebagainya.

2. Risiko Geografis

    Jenis risiko yang berikutnya adalah risiko geografis, yaitu risiko akibat lokasi fisik perusahaan, misalnya lokasi rawan gempa, tsunami, longsor, dan jenis bencana alam lainnya. Contoh manajemen risiko yang bisa dilakukan perusahaan untuk jenis risiko ini misalnya mitigasi bencana, simulasi, dan asuransi aset.

3. Risiko Politik

    Jenis risiko yang ketiga adalah risiko politik, yaitu ancaman-ancaman yang terjadi akibat kondisi politik dan kebijakan suatu negara. Contoh risiko politik misalnya anomali kebijakan, konflik perebutan kekuasaan, dan sebagainya.

4. Risiko Ketidakpastian Ekonomi

    Selain risiko politik, jenis risiko yang juga dialami perusahaan adalah risiko ketidakpastian ekonomi nasional, misalnya terjadinya inflasi, ketidakstabilan nilai mata uang negara, bubble economy, dan masalah ekonomi makro lainnya.

5. Risiko Persaingan

    Jenis risiko terakhir dan kerap dialami bisnis adalah risiko persaingan, yaitu risiko yang ditimbulkan oleh kerasnya kompetisi dalam industri. Beberapa contoh manajemen risiko perusahaan untuk menghindari jenis risiko ini misalnya dengan memiliki tim advokasi bisnis dan menyiapkan strategi antisipasi gerakan kompetitor.

Prinsip Manajemen Risiko

    Prinsip-prinsip dalam manajemen risiko yang perlu diperhatikan antara lain:

a. Perumusan tujuan

    Kejelasan visi dan misi perusahaan menjadi pedoman untuk menentukan langkah-langkah rasional dan strategi yang harus ditempuh, salah satunya yaitu tujuan yang hendak dicapai dalam pengelolaan risiko perusahaan melalui langkah-langkah antisipasi risiko secara umum yang bertujuan untuk menghindari segala bentuk pemborosan.

b. Kesatuan arah

    Dalam menjalankan suatu kegiatan dalam perusahaan, maka harus mempunyai tujuan yang sama dengan yang diarahkan oleh pimpinan. Dalam buku prinsip-prinsip manajemen dikatakan, seorang karyawan yang bekerja di salah satu bagian hanya menerima instruksi mengenai kegiatan tertentu dari seorang kepala bagian yang menjadi atasannya.

c. Pembagian kerja dan pendelegasian wewenang

    Pembagian kerja dan pendelegasian wewenang dalam sebuah perusahaan perlu dilakukan sehingga setiap unit mengetahui secara jelas wewenang dan tanggung jawab yang diembannya. Tujuan dari pendelegasian wewenang adalah untuk mencapai hasil akhir yang maksimal sesuai yang diinginkan dengan mendelegasikan sebagian tugasnya pada bawahan.

d. Koordinasi

    Koordinasi merupakan salah satu fungsi manajemen atau proses pengintegrasian, sinkronisasi, serta penyederhanaan pelaksanaan tugas yang terpisah-pisah secara terus menerus untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Adanya koordinasi diharapkan tidak terjadi pekerjaan yang tumpang tindih. Tanpa koordinasi, maka sulit didapatkan tujuan perusahaan yang efektif dan efisien.

e. Pengawasan

    Dengan adanya prinsip pengawasan, maka dapat diketahui tentang hasil yang telah dicapai. Pengawasan dapat berfungsi untuk mengukur seberapa jauh hasil yang telah dicapai sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Pengawasan harus dilakukan guna menghindari penyalahgunaan wewenang.

Langkah-langkah Manajemen Risiko

    Langkah-langkah atau proses yang biasanya dilakukan dalam upaya menangani suatu risiko (risk management process) sangat tergantung pada konsep dasar yang dianut. Untuk membuat suatu perencanaan yang baik dalam menghindari risiko yang dihadapi perusahaan, maka beberapa Langkah yang harus ditempuh antara lain:

a. Identifikasi Risiko perusahaan

    Identifikasi risiko bisa dilakukan dengan bantuan penggunaan checklist. Dalam sebuah perusahaan diperlukan metode yang sistematis untuk mengeksplorasi semua segi dari sebuah perusahaan. Metode yang bisa digunakan adalah:
  1. Kuesioner analisis risiko (risk analysis questionnaire). Manajer risiko perlu memastikan bahwa informasi yang diperlukan berkenaan dengan harta dan operasi perusahaan tidak ada yang terlupakan.
  2. Metode laporan keuangan. Metode ini dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan yaitu neraca, laporan laba dan rugi, serta catatan keuangan lainnya. Manajer risiko dapat mengidentifikasi semua risiko yang berkenaan dengan harta, utang, dan personalia perusahaan. Setiap perkiraan, dianalisis secara mendalam berkaitan dengan kemungkinan kerugian yang dapat terjadi dari setiap perkiraan itu.
  3. Metode peta aliran. Metode ini akan menggambarkan seluruh rangkaian operasi usaha dimulai dari input sampai output. Checklist dari kerugian potensial digunakan untuk operasi yang terlihat dalam peta aliran sehingga menentukan kerugian yang dihadapi oleh perusahaan yang bersangkutan.
  4. Metode inspeksi langsung di tempat. Metode ini digunakan untuk melakukan pemeriksaan secara langsung di tempat dimana dilakukan aktivitas perusahaan. Pengamatan manajer risiko bisa membuahkan hasil mengenai bagaimana kenyataan-kenyataan di lapangan sehingga bermanfaat untuk penanggulangan risiko.
  5. Mengadakan interaksi dengan pihak luar. Pihak luar bisa diartikan yaitu mengadakan hubungan dengan perseorangan ataupun perusahaan-perusahaan lain. Terutama pihak-pihak yang dapat membantu perusahaan dalam menanggulangi risiko seperti penasihat hukum, akuntan, konsultan manajemen, dan lain-lain. Mereka dapat membantu dalam mengembangkan identifikasi terhadap kerugian-kerugian potensial.
  6. Catatan statistik dari kerugian masa lalu. Catatan ini bisa digunakan untuk evaluasi kinerja. Kinerja yang berpotensi akan menimbulkan kerugian perlu dipantau dan disempurnakan, seperti: kualitas produksi, kualitas pelayanan, dan lain-lain.
  7. Analisis lingkungan. Langkah ini sangat diperlukan guna mengetahui kondisi yang mempengaruhi timbulnya risiko seperti konsumen, pesaing, supplier, dan lain-lain. Dalam menganalisis masing-masing komponen, pertimbangan yang penting di antaranya: sifat hubungannya, keanekaannya serta kestabilannya. Seperti contoh: penjualan produk secara langsung atau tidak langsung, dari produsen langsung ke konsumen atau dari produsen melalui grosir, pedagang eceran baru ke konsumen, dan lain-lain.

b. Mengukur risiko

    Mengukur usaha dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui relative tingkat pentingnya dan memperoleh informasi untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen risiko yang tepat untuk menangani. Metode untuk mengukur risiko ini antara lain:
  • Metode sensitivitas. Metode sensitivitas merupakan suatu cara pengukuran dampak pada eksposur dari akibat pergerakan variabel suatu risiko. Pengukuran dengan metode sensitivitas ini banyak digunakan karena metode ini paling mudah teknis perhitungannya dan hamper semua analis dan manajer perusahaan pernah melakukan metode sensitivitas terhadap rencana keputusan. Adapun variabel risiko yang dianalisis menggunakan metode sensitivitas antara lain: risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko pasar, risiko kredit, dan risiko likuiditas.
  • Metode volatilitas. Metode volatilitas merupakan metode yang menunjukkan besaran kemungkinan hasil di sekitar ekspektasi hasil. Volatilitas yang sering digunakan adalah jangkauan (range) dan standar deviasi. Perhitungan standar deviasi dapat menggunakan dua jenis data yaitu data historis dan data hasil peramalan.
  • Risiko sisi bawah (downside risk). Risiko dapat memberi dampak positif maupun negative. Risiko ini hanya mengukur potensi dampak buruk bila risiko menjadi kenyataan. Perlu diingat, terdapat kondisi di mana perusahaan bisa menghadapi risiko yang hanya berdampak positif, tetapi tidak hanya berdampak negatif.

c. Pengendalian risiko

    Pengendalian risiko (risk control) dapat dilakukan melalui pengendalian risiko dan pembiayaan risiko. Pengendalian risiko dapat dijalankan dengan menghindari risiko dan mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait. Dengan demikian, risiko yang sifatnya merugikan pun dapat dihindari.



































REFERENSI

https://www.ocbcnisp.com/id/article/2021/08/30/manajemen-risiko
https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/manokwari/id/data-publikasi/berita-terbaru/3030-manajemen-risiko-tujuan,-kategori,-dan-mitigasi.html
https://www.gramedia.com/literasi/manajemen-risiko/
https://mekari.com/blog/manajemen-risiko/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ASSURANCE DAN AUDIT 1, RESUME PERTEMUAN 15

JASA-JASA SELAIN AUDIT YANG DIBERIKAN AKUNTAN PUBLIK Jasa Audit Laporan Keuangan.      Dalam kapasitasnya sebagai auditor independen KAP mel...