Selasa, 06 Juni 2023

INTERNAL AUDIT, RESUME PERTEMUAN 13

    

 AUDIT SAMPLING

Pengertian dan Tujuan Audit Sampling

       Berdasarkan SA 530  mendefinisikan sampling audit sebagai berikut : “Penerapan prosedur audit terhadap kurang dari 100% unsur dalam suatu populasi audit yang relevan sedemikian rupa sehingga semua unit sampling  memiliki peluang yang sama untuk dipilih untuk memberikan basis memadai bagi auditor untuk menarik kesimpulan tentang populasi secara keseluruhan. 
        Berdasarkan SA 530 mendefinisikan tujuan penggunaan sampling audit sebagai berikut : “Tujuan penggunaan sampling audit oleh auditor adalah  untuk  memberikan  basis  yang memadai bagi auditor untuk menarik kesimpulan mengenai populasi yang menjadi sumber pemilihan sample”. 
       Ketika memilih sampel dari popuasi, uditor berusaha untuk  memperoleh sampel yang representatif. Sampel representatif (representative sample) adalah sampel  yang karakteristiknya hampir sama dengan yang dimiliki oleh populasi ini berarti item-item yang dijadikan sampel populasi serupa dengan item item yang tidak dijadikan sampel. 
    Dalam  praktek,  auditor  tidak  pernah  mengetahui  apakah  suatu  sampel bersifat representatif, bahkan setelah semua pengujian selesai dilakukan. Satu satunya cara untuk mengetahui apakah  suatu  sampel  bersifat  representatif  adalah  dengan  melakukan  audit lebih  lanjut  atas  populasi  secara keseluruhan. Akan tetapi, auditor  dapat  meningkatkan kemungkinan  sampel dianggap representatif  dengan  menggunakannya  secara  cermat ketika merancang proses sampling, pemilihan sample, dan evaluasi sampel. Hasil sampel dapat menjadi non-representatif akibat kesalahan  nonsampling  atau kesalahan sampling. Risiko dari dua jenis kesalahan yang terjadi tersebut disebut sebagai risiko nonsampling  danrisiko sampling. Keduanya dapat dikendalikan.

Ketidakpastian dan Sampling Audit

    Beberapa tingkat ketidakpastian secara implisit termasuk dalam konsep “sebagai dasar memadai untuk suatu pendapat” yang diacu dalam standar pekerjaan lapangan ketiga. Dasar untuk menerima beberapa ketidakpastian timbul dari hubungan antara faktor-faktor seperti biaya dan waktu yang diperlukan untuk memeriksa semua data dan konsekuensi negatif dari kemungkinan keputusan yang salah yang didasarkan atas kesimpulan yang dihasilkan dari audit terhadap data sampel saja. Jika faktor-faktor ini tidak memungkinkan penerimaan ketidakpastian, maka alternatifnya hanyalah memeriksa semua data. Karena hal ini jarang terjadi, maka konsep dasar sampling menjadi lazim dalam praktik audit. Ketidakpastian yang melekat dalam penerapan prosedur-prosedur audit disebut risiko audit. Risiko audit terdiri dari :

a. Risiko (meliputi risiko bawaan dan risiko pengendalian)

    Bahwa saldo atau kelompok dan asersi yang berkaitan, mengandung salah saji yang mungkin material bagi laporan keuangan, jika dikombinasikan dengan salah saji pada saldo-saldo atau kelompok yang lain, dan

b. Risiko (risiko deteksi)

    Bahwa auditor tidak menemukan salah saji tersebut. Risiko terjadinya peristiwaperistiwa negatif ini (adverse events) secara bersamaan dapat dipandang sebagai suatu fungsi  masing-masing risiko. Dengan menggunakan pertimbangan profesional, auditor menilai berbagai faktor untuk menentukan risiko bawaan dan risiko pengendalian (penentuan risiko pengendalian pada tingkat yang lebih rendah daripada tingkat maksimum akan menuntut pelaksanaan pengujian atas pengendalian), dan melakukan pengujian substantif (prosedur analitik dan pengujian atas rincian saldo-saldo akun atau kelompok transaksi) untuk membatasi risiko deteksi.

    Risiko audit meliputi ketidakpastian yang disebabkan oleh sampling dan ketidakpastian yang disebabkan oleh faktor-faktor selain sampling. Aspek-aspek risiko audit adalah

  • Risiko Sampling

    Risiko sampling berkaitan dengan kemungkinan bahwa sampel yang diambil bukanlah sampel yang representatif. risiko sampling timbul dari kemungkinan bahwa kesimpulan auditor bila menggunakan sampling mungkin menjadi lain dari kesimpulan yang akan dicapai bila cara pengujian yang sama diterapkan tanpa sampling. tingkat risiko sampling mempunyai hubungan yang terbalik dengan ukuran sampel. semakin kecil ukuran sampel, semakin tinggi risiko samplingnya. sebaliknya, semakin besar ukuran sampel, semakin rendah risiko samplingnya.
    Seluruh risiko baik yang berkaitan maupun yang tidak berkaitan dengan sampling, memungkinkan kesalahan pemberian pendapat. auditor kemungkinan dapat memberikan pernyataan wajar atas nilai buku yang mengandung salah saji yang material. kesalahan pemberian pendapat auditor dapat disebabkan oleh kombinasi kemungkinan kesalahan berikut:
  1. kesalahan material yang terjadi dalam laporan keuangan
  2. struktur pengendalian intern gagal mendeteksi dan melakukan kesalahan
  3. prosedur audit yang dilaksanakan auditor, gagal mendeteksi kesalahan.

Risiko Non Sampling

    Risiko non sampling meliputi semua aspek risiko audit yang tidak berkaitan dengan sampling. risiko ini tidak akan pernah dapat diukur secara mateatis. risiko non sampling timbul karena:
  1. Kesalahan manusia seperti gagal mengakui kesalahan dalam dokumen
  2. Kesalahan pemilihan maupun penerapan prosedur audit yang tidak sesuai dengan tujuan audit
  3. Salah interpretasi hasil sampel
    Walaupun tidak dapat diukur secara matematis, risiko non sampling ini dapat ini dapat ditekan auditor dengan cara sebagai berikut:
  1. Melakukan perencanaan yang tepat
  2. Melakukan pengawasan atau supervisi yang tepat
  3. Menerapkan standar pengendalian kualitas yang ketat atas pelaksanaan audit.
    Dalam menyelenggarakan pengujian substantif atas rincian, auditor memperhatikan dua aspek dari risiko sampling:
  • Risiko keliru menerima (risk of incorrect acceptance), yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo akun tidak berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun telah salah saji secara material.
  • Resiko keliru menolak (risk of incorrect rejection), yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo akun berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun tidak berisi salah saji secara material.

    Auditor juga memperhatikan dua aspek risiko sampling dalam menyelenggarakan pengujian pengendalian jika ia menggunakan sampling:
  • Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah (risk of assessing control risk too low), yaitu ; Risiko menentukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sample, terlalu rendah dibandingkan dengan efektivitas operasi pengendalian yang sesungguhnya.
  • Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi (risk of assessing control risk too high), yaitu risiko menentukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sample, yangterlalu tinggi dibandingkan dengan efektivitas operasi pengendalian yang sesungguhnya.

 































Referensi :

https://www.studocu.com/id/document/universitas-negeri-semarang/auditing/sampling-audit-auditing-2/20465048
https://spi.uin-alauddin.ac.id/index.php/2016/11/15/sampling-audit/
https://accounting.binus.ac.id/2018/11/26/sampling-dalam-audit/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ASSURANCE DAN AUDIT 1, RESUME PERTEMUAN 15

JASA-JASA SELAIN AUDIT YANG DIBERIKAN AKUNTAN PUBLIK Jasa Audit Laporan Keuangan.      Dalam kapasitasnya sebagai auditor independen KAP mel...