Senin, 05 Juni 2023

INTERNAL AUDIT, RESUME PERTEMUAN 12

 BUKTI AUDIT DAN KERTAS KERJA


Bukti audit

    Bukti Audit (Audit Evidence) merupakan segala jenis informasi relevan yang nanti akan digunakan oleh akuntan publik/konsultan hukum/auditor sebagai dasar dalam mengeluarkan opini auditnya. Bukti ini dalam laporan keuangan umumnya berbentuk nominal, dalam legal audit berbentuk dokumen hukum. Selain itu, bukti bisa juga berupa hasil observasi auditor dan hasil wawancara yang dilakukan kepada pihak terkait.
    Seorang auditor pasti membutuhkan bukti audit ini sebagai dasar dalam mengeluarkan opini yang dapat dipercaya dan berkualitas. Bukti ini bisa didapatkan melalui beragam cara yakni bisa melalui inspeksi, pengamatan, meminta keterangan dari pihak terkait, dan melakukan konfirmasi atas laporan-laporan yang sebelumnya telah dikirimkan kepada auditor.

Bagaimana Cara Auditor Mengukur Kelayakan Bukti Audit?

    Perusahaan umumnya selalu menyediakan bukti atas informasi yang diberikan kepada auditor. Bahkan, bukti yang dihadirkan terkadang berjumlah besar dan bertumpuk antara satu jenis bukti dengan bukti lainnya. Diantara berbagai bukti yang disediakan seringkali perusahaan menyuguhkan bukti-bukti yang sesungguhnya tidak relevan dengan maksud dilakukannya audit. Oleh karena itu, umumnya auditor akan melakukan seleksi terhadap kelayakan bukti audit ini. Adapun beberapa hal yang umumnya dijadikan dasar oleh auditor untuk mengukur kelayakan audit evidence adalah sebagai berikut:

1. Pertimbangan Profesional Auditor

    Auditor wajib menguasai bidang keilmuan baik teoritis maupun praktis terhadap objek yang diaudit. Dalam audit hukum, auditor harus menguasai keilmuan bidang hukum. Demikian halnya dalam bidang audit keuangan, auditor haruslah seorang akuntan publik. Kompetensi tersebut nantinya akan digunakan oleh auditor melakukan screening secara cepat dan tepat terhadap laporan keuangan atau dokumen hukum yang disediakan oleh perusahaan. Melalui pertimbangan profesional, seorang auditor akan dengan mudah menilai mana bukti yang relevan dan bukti non-relevan.

2. Integritas Manajemen

    Terkadang seorang auditor juga menilai track record dari pihak manajemen, bagaimana selama ini profil mereka, bagaimana tingkat integritas mereka. Ini juga mempengaruhi keyakinan auditor terhadap segala bukti yang diajukan.

3. Status Badan Hukum

    Status badan hukum dari suatu perusahaan juga akan mempengaruhi cara penilaian bukti oleh auditor. Badan hukum perseroan terbatas tentu akan dinilai lebih detail dibandingkan dengan badan hukum CV, dan seterusnya.

4. Kondisi Keuangan

    Dalam audit keuangan, financial condition menjadi faktor yang sangat menentukan apakah auditor akan menilai secara detail (satu per-satu) bukti yang disodorkan atau hanya melihat sampel saja. Semakin baik kondisi keuangan yang baik tentu buktinya berbeda dengan ketika kondisi keuangan perusahaan buruk.

Cara Mengukur Kualitas Bukti Audit

   Auditor harus memiliki indikator yang dijadikan olehnya sebagai dasar pertimbangan dalam mengukur tingkat kompeten dari bukti audit. Semakin kompeten bukti yang diberikan, maka semakin baik nilai dari kewajaran atas laporan keuangan yang disodorkan perusahaan. Adapun indikator-indikator tersebut adalah sebagai berikut:

1. Relevansi

    Bukti audit yang diberikan haruslah relevan dengan tujuan dilaksanakannya audit. Misalnya, ketika yang ingin di audit dalam perusahaan adalah persediaan, maka bukti yang paling relevan adalah dengan cara melihat langsung stok persediaan yang ada.

2. Sumber Perolehan Bukti

    Asal peroleh bukti juga menjadi dasar pertimbangan yang menentukan bagi seorang audit, informasi yang diperoleh dari pihak lain yang independen akan semakin dipercaya. Kemudian, informasi yang bersalah dari manajemen internal yang sangat transparan dengan pengelolaan yang baik, pasti dapat lebih dipercaya. Terakhir, informasi yang diperoleh auditor sendiri melalui pengamatan, inspeksi dan sejenisnya tentu lebih dapat dipercaya.

3. Ketepatan Waktu

    Dalam audit keuangan ketepatan waktu atau tanggal dari bukti audit sangat menentukan tingkat validitas, terutama bila yang diaudit adalah mengenai hutang dan aktiva lancar, laporan laba rugi, surplus keuangan, dan sejenisnya. Ketepatan waktu digunakan untuk mengetahui apakah pengakuan yang dilakukan sudah tepat. Ketepatan waktu ini dalam audit hukum juga berpengaruh, ini bisa digunakan untuk menilai ketaatan perusahaan terhadap aturan hukum seperti pajak.

4. Objektivitas

    Bukti yang sifatnya objektif tentu lebih baik dari bukti yang sifatnya subjektif. Bagaimana cara menentukan suatu bukti adalah objektif atau subjektif? Tentu caranya adalah dengan menentukan siapa yang menandatangani bukti dan siapa yang memberikan bukti tersebut.

Jenis Bukti Audit

1. Pengujian Fisik

    Bukti jenis ini adalah fakta atau informasi yang diperoleh oleh auditor dengan cara melihat secara langsung fisik dari aset perusahaan. Misalnya fisik dari persediaan yang dimiliki perusahaan. Pengujian fisik ini digunakan dalam audit hukum misalnya untuk melakukan cek kebenaran luas tanah yang tertera dalam sertifikat tanah.

2. Konfirmasi

    Bukti konfirmasi ini adalah fakta yang diperoleh auditor berdasarkan pernyataan, baik bersifat langsung maupun tertulis oleh pihak ketiga yang independen. Auditor umumnya lebih memilih bukti yang sifatnya tertulis dibandingkan bukti yang sifatnya pernyataan langsung, sebab lebih mudah dianalisis.

3. Dokumentasi

    Dalam memperoleh bukti yang valid, setelah melakukan pengujian fisik atau terhadap bukti barang yang sifatnya habis pakai, atau berupa kegiatan maka cara pembuktian yang paling relevan adalah dengan melakukan dokumentasi.

4. Analitis

    Bukti analitis ini berkaitan dengan kompetensi keilmuan dari auditor, dalam memperoleh bukti analitis ini umumnya auditor akan membandingkan suatu objek dengan objek lainnya. Atau dalam laporan keuangan auditor tentu akan melakukan perbandingan antara neraca saldo dengan beberapa laporan keuangan lainnya seperti laba-rugi.

5. Wawancara

    Wawancara ini diperlukan sebagai bukti pendukung, misalnya untuk menilai bagaimana kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan, bukti yang paling valid antara lain adalah dengan melakukan wawancara terhadap pegawai atau organisasi dibawahnya.

6. Perhitungan Ulang

    Bukti ini hanya berlaku jika yang diaudit adalah laporan keuangan. Teknik ini digunakan untuk mengukur validitas hasil perhitungan yang dilakukan klien.

7. Observasi

    Meskipun hampir sama pengujian fisik, tapi prakteknya berbeda. Pengujian fisik lebih detail dari observasi, sebab dalam observasi ini hanya dilakukan pengamatan saja tanpa melakukan kontak fisik. Namun, metode ini juga bisa mendapatkan fakta lain yang lebih valid dibandingkan dengan uji fisik. Tujuannya tentu berbeda, bila uji fisik dilakukan untuk melakukan cek terhadap informasi yang dicantumkan, observasi dilakukan untuk tujuan memperoleh data diluar informasi yang disediakan.

Kertas Kerja

    Kertas kerja atau working paper merupakan suatu berkas yang di kumpulkan auditor untuk melakukan pemeriksaan dan menjadi mata rantai yang menghubungkan catatan klien dengan laporan audit.  Maka dari itu, kertas kerja menjadi media mendasae dalam profesi akuntan public. Dalam pelaksanaannya, auditor harus menyusun atau menggabungkan beragam tipe bukti kertas kerja, guna mendukung konklusi dan tanggapannya atas laporan keuangan auditanKertas kerja berisi data yg berguna untuk menyusun lap. keuangan, yaitu neraca, laporan laba rugi, dan laporan perubahan modal.

Tujuan Kertas Kerja

    Adapun beberapa tujuan dalam kertas kerja sebagai berikut :
  • Sebagai pendukung opini auditor terhadap pendapat akuntan mengenai kewajaran atas laporan keuangan yang diauditnya
  • Indikasi bahwa auditor mampu menyelesaikan pemeriksaan sesuai dengan standar yang ditetapkan professional akuntan publik
  • Sebagai pedoman dalam problematika Pihak Pajak, Pihak Bank,  Pihak Client serta pengauditan tahun berikutnya
  • Menjadi asas penilaian asisten yang berdampak dalam penyususnan evaluasi atas kemampuan sekuruh tim audit sesusai kelarnya penugasan
  • Untuk mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap pengauditan
  • Sebagai penguat kesimpulan akuntan dan kompetensi pengauditannya.

Fakto-faktor Yang Harus Dilakukan Untuk Pembuatan Kertas Kerja

    Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kertas kerja adalah lengkap, teliti, ringkas, jelas dan rapi. Faktor tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Lengkap

    Kertas kerja harus lengkap dalam arti Berisi semua informasi yang pokok dan tidak memerlukan tambahan penjelasan secara lisan.

2. Teliti

    Mencermati ketelitian penulisan dan kalkulasi sehingga kertas kerja terbebas dari kekeliruan tulis dan perhitungan

3. Ringkas

    Kertas kerja terbatas oleh informasi yang baku dan signifikan saja dengan maksud audit yang dikerjakan serta diajukan secara ringkas. Tidak terdistraksi oleh uraian yang tak penting, serta merupakan rangkuman dan pemahaman data dan bukan hanay merupakan salinan catatan klien ke dalam kertas kerja

4. Jelas

    Penggunaan istilah yang menimbulkan arti ganda perlu dihindari. Penyajian informasi secara sistematik perlu dilakukan.

5. Rapi

    Kertas kerja yang rapi berguna bagi auditor senior dalam membantu dan me-review hasil olah bawahannya, serta mempercepat auditor dalam mengumpulkan informasi dari kertas kerja tersebut.

Tipe Kertas Kerja

    Ada beberapa tipe-tipe kertas audit yang biasanya dikenal, sebagai berikut :

1) Program Audit

    Program audit berfungsi menetapkan jadwal perencanaan audit, pelaksanaan audit dan jumlah orang yang diperlukan.

2) Working Trial Balance

    Suatu daftar yang berisi saldo dari seluruh rekening akun buku besar akhir tahun yang telah diaudit dan tahun-tahun sebelumnya yang diperiksa dari penghujung tahun akhir tahun sebelumnya, pembenaran yang diajukan serta saldo menurut hasil pemeriksaan. Kertas kerja ini juga dapat diuraikan menjadi laporan perubahan modal dan laporan laba rugi.

3) Ringkasan Jurnal Penyesuaian

    Kekeliruan yang dijumpai oleh auditor dalam penulisan akuntansi dan lapornan keuangan karena salam tafsir dan salah langkah pola terhadap prinsip akuntansi yang berlaku general. Kekeliruan tersebut perlu dibetulkan dengan menyusun jurnal penyesuaian.

4) Skedul Utama

    Kertas kerja pemeriksaan yang brfungsi guna merangkum informasi yang dicatat dalam daftar pendukung untuk rekening-rekening yang bertautan.

5) Skedul Pendukung

    Kertas kerja yang berisi rincian dari invesi hasil pemeriksaan, serta pembenara yang tercantum, serta mengandung beragam informasi dan proses pemeriksaan yang dikerjakan oleh seorang akuntan. Dapat disimpulkan juga bahawa kedul pendukung ialah rincian dari pada skedul utama.




























Referensi:
https://hukumline.com/bukti-audit-pengertian-jenis-dan-contohnya/
https://komputerisasi-akuntansi-d4.stekom.ac.id/informasi/baca/Kertas-Kerja-dalam-Lingkup-Audit/7a7aafb9c583778f5c8b47fda0d5b4d7ea0bb4a6#:~:text=Kertas%20kerja%20atau%20working%20paper,catatan%20klien%20dengan%20laporan%20audit.&text=Sebagai%20penguat%20kesimpulan%20akuntan%20dan%20kompetensi%20pengauditannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ASSURANCE DAN AUDIT 1, RESUME PERTEMUAN 15

JASA-JASA SELAIN AUDIT YANG DIBERIKAN AKUNTAN PUBLIK Jasa Audit Laporan Keuangan.      Dalam kapasitasnya sebagai auditor independen KAP mel...